Sabtu, 15 Juni 2013

tugas softskill part 3

 Nama : Natazia Amelia Agies
Npm : 26209849
Kelas : 4 EB 19

 
A. Profil Singkat Bank BNI
Bank BNI didirikan pada tahun 1946. Perusahaan publik ini mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia. Bank BNI merupakan bank terbesar nomor 3 di Indonesia setelah Bank Mandiri dan BCA dengan total aset pada tahun 2003 sebesar IDR. 131,49 triliun.

Visi : Menjadi Bank kebanggaan nasional yang unggul dalam layanan dan kinerja.
Misi : Memaksimalkan stakeholder value dengan menyediakan solusi keuangan yang fokus pada segmen pasar korporasi, komersial dan konsumer.
 Budaya Perusahaan
1. BNI adalah bank umum berstatus perusahaan publik.
2. BNI berorientasi kepada pasar dan pembangunan nasional.
3. BNI secara terus menerus membina hubungan yang saling menguntungkan dengan nasabah dan mitra usaha.
4. BNI mengakui peranan dan menghargai kepentingan pegawai.
5. BNI mengupayakan terciptanya semangat kebersamaan agar pegawai melaksanakan tugas dan kewajiban secara profesional.

B. Ringkasan Kasus
Awal terbongkarnya kasus menghebohkan ini tatkala BNI melakukan audit internal pada bulan Agustus 2003. Dari audit itu diketahui bahwa ada posisi euro yang gila-gilaa besarnya, senilai 52 juta euro. Pergerakan posisi euro dalam jumlah besar mencurigakan karena peredaran euro di Indonesia terbatas dan kinerja euro yang sedang baik pada saat itu. Dari audit akhirnya diketahui ada pembukaan L/C yang amat besar dan negara bakal rugi lebih satu triliun rupiah.
Penjelasan mengenai L/C fiktif BNI tersebut adalah sebagai berikut :
- Waktu kejadian : Juli 2002 s/d Agustus 2003
- Opening Bank : Rosbank Switzerland, Dubai Bank Kenya Ltd, The Wall Street Banking Corp, dan Middle East Bank Kenya Ltd.
- Total Nilai L/C : USD.166,79 juta & EUR 56,77 juta atau sekitar Rp. 1,7 trilyun
- Beneficiary/Penerima L/C : 11 perusahaan dibawah Gramarindo Group dan
2 perusahaan dibawah Petindo Group
- Barang Ekspor : Pasir Kuarsa dan Minyak Residu
- Tujuan Ekspor : Congo dan Kenya
- Skim : Usance L/C

C. Kronologi :
1. Bank BNI Cabang Kebayoran Baru menerima 156 buah L/C dengan Issuing Bank : Rosbank Switzerland, Dubai Bank Kenya Ltd, The Wall Street Banking Corp, dan Middle East Bank Kenya Ltd. Oleh karena BNI belum mempunyai hubungan koresponden langsung dengan sebagian bank tersebut di atas, mereka memakai bank mediator yaitu American Express Bank dan Standard Chartered Bank.
2. Beneficiary mengajukan permohonan diskonto wesel ekspor berjangka (kredit ekspor) atas L/C-L/C tersebut di atas kepada BNI dan disetujui oleh pihak BNI. Gramarindo Group menerima Rp 1,6 trilyun dan Petindo Group menerima Rp 105 milyar.
3. Setelah beberapa tagihan tersebut jatuh tempo, Opening Bank tidak bisa membayar kepada BNI dan nasabahpun tidak bisa mengembalikan hasil ekspor yang sudah dicairkan sebelumnya.
4. Setelah diusut pihak kepolisian, ternyata kegiatan ekspor tersebut tidak pernah terjadi.
5. Gramarindo Group telah mengembalikan sebesar Rp 542 milyar, sisanya (Rp 1.2 trilyun) merupakan potensi kerugian BNI.
Dalam menanggapi kasus ini manajemen Bank BNI mengatakan bahwa tidak ada ekspor fiktif dan belum ada kerugian, tetapi yang ada hanya potensi kerugian (potential losses). Pertanyaannya adalah apakah mungkin kerugian sebesar itu terjadi tanpa ekspor fiktif ? Minimnya informasi mengenai sistem pembayaran perdagangan internasional melalui letter of credit (L/C) menimbulkan semakin banyaknya pertanyaan mengenai kasus pembobolan Bank BNI.

D. Solusi
Sistem dan prosedur pengamanan transaksi L/C, khususnya di bank-bank BUMN, termasuk Bank BNI, cukup baik karena telah dibangun dan disempurnakan selama bertahun-tahun, antara lain berdasarkan pengalaman- pengalaman pahit masa lampau.
Akan tetapi, sistem pengamanan yang baik saja tidak cukup. Masih diperlukan sikap dari para petugasnya. Sekalipun sistem pengamanan sudah demikian baik, tetapi apabila para petugas bank sengaja melanggar sistem dan prosedur dengan tujuan yang tidak baik, bank akan kebobolan juga. Bank selalu dihadapkan pada pilihan dilematis antara pengamanan dan pelayanan kepada nasabah. Pengamanan yang terlalu ketat akan menghasilkan pelayanan yang mengecewakan nasabah.
Sebaliknya, pelayanan yang dirasakan sangat memuaskan nasabah akan mengorbankan sistem pengamanan. Menghadapi dilema ini, bank harus bijak dan mampu membangun prosedur kerja yang tetap dapat menjamin keamanan, namun pelayanan bank memuaskan bagi nasabah. Dari penelitian, ternyata transaksi dalam kasus Bank BNI ini merupakan transaksi bermasalah dengan indikasi transaksi tersebut dilakukan tanpa mengikuti ketentuan intern Bank BNI. Transaksi L/C kedua grup usaha yang menjadi beneficiary telah dinegosiasikan oleh Bank BNI Kebayoran Baru dengan diskonto tanpa didahului adanya akseptasi dari bank penerbit. Di samping itu, dokumen-dokumen L/C mengandung penyimpangan dan negosiasi L/C dilakukan tanpa kelengkapan dokumen.
Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh kantor besar Bank BNI, para eksportir, yaitu perusahaan-perusahaan yang termasuk Gramarindo Group dan Petindo Group ternyata telah melakukan ekspor fiktif. Hal ini terungkap antara lain dari hasil verifikasi kepada Pejabat Bea Cukai cabang Belitung menyangkut Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) Gramarindo Group, Pejabat Bea Cukai cabang Belitung menyatakan bahwa PEB tersebut palsu.
Sementara itu pula, penyelesaian pembayaran hasil transaksi ekspor (proceed) dari beberapa slip L/C tersebut yang telah dinegosiasikan dilakukan bukan oleh bank pembuka L/C (issuing bank), melainkan dilakukan oleh para eksportir sendiri dengan cara melakukan penyetoran atau melalui pendebetan rekening para eksportir tersebut.
Sebagaimana diketahui, atas laporan kantor besar Bank BNI pada tanggal 30 September 2003, pihak kepolisian telah menahan pegawai Bank BNI Kebayoran Baru yang terlibat, yaitu Koesadiyuwono (mantan pemimpin cabang Bank BNI Kebayoran Baru) dan Edi Santoso (mantan Customer Service Manager Luar Negeri cabang Bank BNI Kebayoran Baru).
 
Source : http://haryaniagusti.blogspot.com/2012/03/tugas-2-contoh-kasus-letter-of-credit.html
http://putra-finance-accounting-taxation.blogspot.com/2007/12/letter-of-credit-serie-2.html

Sabtu, 13 April 2013

Tugas Softskill Akuntansi Internasional part 2



Nama             : Natazia Amelia Agies
Kelas  : 4 EB 19
NPM   : 26209849
Tugas Akuntansi Internasional
16. Ketergantungan yang Dominan pada Dunia Internasional

Rabu, 13 Juni 2012 | 11:25 WIB
UNDP Bangun Penimbunan Sampah Rp 88,3 Miliar  
TEMPO.CO, Aceh- United Nations Development Program (UNDP) membangun sanitary landfill alias tempat penimbunan sampah dalam lubang di kawasan Blang Bintang, Aceh Besar, serta stasiun transfer sampah di Gampong Jawa, Banda Aceh. Proyek yang ditargetkan selesai pada Agustus 2012 ini menelan dana senilai US$ 9,36 Juta atau Rp 88,3 miliar.

Menurut Koordinator Proyek UNDP, Nigel Landon, tempat sampah ini akan melayani pembuangan limbah dari dua distrik, yakni Banda Aceh dan Aceh Besar. Di tempat ini sampah akan ditimbun dalam lubang yang telah dilapisi plastik pelindung untuk mencegah pencemaran tanah. Untuk meminimalkan  bau, sampah akan kembali ditimbun dengan tanah.

"Landfill ini bisa menampung sampah sampai 25 tahun," ujarnya kepada Tempo, Selasa, 12 Juni 2012.
Berdasarkan pengamatan Tempo, di lokasi landfill Blang Bintang terlihat tiga lubang besar di atas lahan seluas 10 hektare. Areal itu merupakan bagian dari lahan pinjaman Dinas Kehutanan Aceh seluas total 130 hektare.
Rencananya air sampah akan dimasukkan dalam kolam terpisah untuk kemudian dibuang saat sudah dibersihkan dari kandungan zat berbahaya. Setelah lubang sampah terisi penuh, pengelola akan menancapkan pipa saluran gas metan.
"Gas metan bisa digunakan untuk bahan bakar," ujar Nigel.
Dari total dana proyek, US$ 1,8 juta di antaranya berasal dari anggaran Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Aceh Besar. Adapun sisanya diperoleh dari dana hibah multidonor (Multi Donor Fund/MDF). Sedangkan biaya operasional akan ditanggung secara patungan 50 persen oleh Pemerintah Provinsi Aceh, 30 persen Pemerintah Kota Banda Aceh, dan 20 persen dari Pemerintah Kota Aceh Besar.
"Total biaya operasional mencapai Rp 3 miliar per tahun," ujar dia.

MARTHA THERTINA

Berdasarkan artikel di atas saya menyimpulkan bahwa :
United Nations Development Programme (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB adalah organisasi multilateral yang paling besar memberi bantuan teknis dan pembangunan di dunia.
Berpusat di New York City dan juga sebagai organisasi terbesar dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Organisasi ini yang dibiayai oleh donor. Donor-donor ini biasanya membantu menyediakan ahli dan penasehat , pelatihan, dan perlengkapan pembangunan untuk negara berkembang, dengan menambah pemberian bantuan untuk negara berkembang.
Berkat kerjasama serta dana dari anggaran Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Aceh Besar serta dana hibah multidonor (Multi Donor Fund/MDF). Dan biaya operasional yang akan ditanggung secara patungan 50 persen oleh Pemerintah Provinsi Aceh, 30 persen Pemerintah Kota Banda Aceh, dan 20 persen dari Pemerintah Kota Aceh Besar.
Dapat mencegah pencemaran tanah dan meminimalkan  bau sampah serta air sampah yang sudah dibersihkan dari kandungan zat berbahaya dapat membuat gas metan yang mana gas metan bisa digunakan sebagai bahan bakar.

Keuntungan :
Proyek pembuatan tempat sampah yang akan melayani pembuangan limbah dari dua distrik, yakni Banda Aceh dan Aceh Besar. Sangat dibutuhkan agar daerah tersebut dapat menjadi daerah yang lebih bersih dan indah dari sebelumnya, selain itu akan mengurangi pencemaran pada daerah sekitar.  Keuntungan lainnya ialah hasil dari air sampah yang akan dimasukkan dalam kolam terpisah dapat menjadi gas metan, dimana gas metan bisa digunakan untuk bahan bakar. Berkat bantuan dari berbagai pihak yang ikut serta dalam pelaksanaan proyek ini.

Kerugian:
Proyek yang sangat membantu dalam proses penanggulangan sampah ini, akan lebih baik apabila bisa dilaksanakan juga di kota-kota besar di Indonesia terutama Jakarta. Dikarenakan apabila kota-kota besar, yang mana sering menjadi atraksi masyarakat luar negeri. Ketika daerah-daerah tersebut menjadi lebih bersih akan dapat meningkatkan nilai jual daerah tersebut. Selain itu semakin banyak daerah yang membuat tempat penimbunan sampah ini, makanakan semakin banyak pula daerah yang dapat membantu dalam pembuatan gas metan. Untuk membantu dalam pembuatan bahan bakar yang dapat membantu masyarakat luas di masa yang akan datang.

Sumber :

Senin, 01 April 2013

Akuntansi Internasional tugas pertama


Nama     : Natazia Amelia Agies
NPM      : 26209849
Kelas      : 4 EB 19


Kurs Jual (KJ) = Rupiah ke Mata uang Luar Negeri = Rp di bagi ke Kurs Jual Negara yang di tuju
Kurs Beli (KB) = Mata uang Luar Negeri ke Rupiah = Jumlah uang di kali Kurs Beli Negara tersebut
SOAL DAN JAWAB


  1. Saat konser keliling dunia Mr. G menukarkan 50.000 KRW di Australia, 50.000 KRW di Singapura, 50.000 KRW di Indonesia. Berapa Rupiah koleksi uang Mr. G? Terdapat selisih = Rp 8969.58 dari KRW to IDR dengan Jumlah setelah di convert ke mata uang lain  
  2. Mr. T memiliki uang Rupiah sebesar Rp 20.000.000, kemudian ia ingin menukarkannya dengan mata uang Korea, England, atau dengan Kuwait. Berapa Won, Poundsterling, atau dengan Dinar yang akan ia peroleh?
  3. Ms. C sedang senang berbelanja. Saat di Thailand ia membeli kacamata seharga 2.000.000 THB, di New Zealand ia membeli sweater seharga 150.000 NZD, di Hongkong dia membeli tas seharga 400.000 HKD. Berapa Rupiah yang telah digunakan Ms. C?
  4.  Ms. S mendapatkan pesangon dari penampilannya di berbagai TV di dunia, dari Philippines ia mendapatkan 5.000.000 PHP, dari Malaysia ia mendapatkan 2.000.000 MYR, dari China ia mendapatkan 4.000.000 CNY. Berapa Rupiah uang yang di terima Ms. S?
  5. Boyband pergi berbelanja di Indonesia dengan membawa uang 40.000 SEK, 50.000 NOK, 60.000 DKK. Berapa Rupiah yang akan mereka dapatkan jika semuanya mereka jadikan Rupiah?
  6. Mr. D saat sakit selalu membeli tolak angin. Di Singapura dia membeli sebanyak 10.000 SGD, di Hong Kong dia membeli sebanyak 10.000 HKD, di Australia dia membeli sebanyak 10.000 AUD, dan di Arab Saudi dia membeli sebanyak 10.000 SAR. Jika di Indonesia harga satuan Tolak Angin adalah Rp 1.400,00. Berapa bungkus yang bisa ia beli di Indonesia dengan semua uang yang ia keluarkan di Singapura, Hong Kong, Australia, dan Arab Saudi?
  7. Harga rokok Marlboro di Indonesia adalah Rp 13.000, di Amerika per bungkus adalah $ 12, di Philipina per bungkus adalah P 45. Jika Joko membeli 1 bungkus di Amerika dan Philipina, berapa bungkus yang bisa ia dapatkan jika membeli di Indonesia?
  8. Para peneliti mie pergi ke Jepang untuk mencoba ramen seharga 1350 yen, di Korea mereka membeli jja-jang-myun seharga 20,000 KRW, di Indonesia harga mie Aceh Rp 16.000. Berapa mangkuk yang bisa mereka makan jika tidak jadi ke Jepang dan Korea? JPY = Rp 10,268.66 tapi memiliki nilai 100 sehingga dalam perhitungan di bagi 100 terlebih dahulu
  9. Sebuah sekolah di Afrika mendapatkan sumbangan dari berbagai negara, berikut adalah beberapa di antaranya: Kanada, Saudi Arabia, Brunei Darussalam. Tiap negara menyumbang menyumbang Rp 550.000.000, berapa uang yang diberikan jika di cantumkan berdasarkan mata uang masing-masing?
  10. Harga Indomie relatif ekonomis, di Indonesia pada tahun 2012, Indomie dihargai Rp. 1.450,- per bungkusnya atau sekitar 10 sen dolar Amerika. Di Australia, tahun 2009 Indomie dijual dengan harga 25 sen per bungkusnya atau AUD 10 untuk satu kardus berisi 40 bungkus Indomie, sedangkan di Amerika Serikat pada tahun 2009, Indomie biasa dijual dengan harga 1 dolar per 3 bungkusnya. Jika di tiap Negara Ayumi Hamasaki membeli 1 kardus atau 40 bungkus Indomie, berapa Rupiah yang di keluarkan?